Sabtu, 16 Mei 2009

Pelangi Hari Ini


Di kala mata berkedip ada sebuah bayang-bayang
Di kala mata sedang tepejap ada sebuah remang-renang
Ada gerak langkah semu ke masa yang lalu
Ada bingkisan album biru di pelupuk mataku
Yang membuat pikirku melayang
Kau selalu menyapa ketentramanku
Di setiap saat-saatku mengharapkanmu

Kini kau jauh
Ku tak mampu menatap wajahmu yang sendu
Ku ingat selalu tirai tawamu yang lugu
Yang selalu membuat senyum bibirku
Kini ku hanya mampu membendung rindu
Di seutas pemisah jarak dan waktu
Dengan sepenggal kenangan yang telah lalu

Aku kini di seberang jalan
Hanya bisa menunggu waktu
Untuk melepas jera kerinduanku

Alam dimensi pikiranku telah terhanyut
Terbuai dalam sebuah gelora kerinduan
Dihantui rindu di setiap celah yang tertuju
Kau sealu membasahi ruang emosiku
Dengan sajak do'a mu yang kau kirim selalu

Hatiku bertanya pada pelangi hari ini
Mampukah aku membendung rindu...
Warna-warnimu yang memukau
Seperti ragam persahabatanku
Di waktu yang lalu

Kini hanya cerita yang mampu tergores dalam maya
Kini hanya pena yang mampu tertinggal dalam bahasa
Serangkai kata memuat cinta
Serangakai kalimat mengandung makna
Sederet sajak Ungkap cerita
Kerinduanku pada mereka.

Sabtu, 25 April 2009

Pesan Pahit Untuknya

Mendung masih membendung
Membangun cerita di setiap goresan pena
Mengisi curahan dalam layar maya
Memberi arti untuk mengungkap kelegaan dada


Untukmu aku bercerita
Di sini aku tersandung baja
Berat ku pikul namun ku memikul
Berat ku emban namun tetap ku emban
Itu sandarku dalam membangun bahuku
Istana ini, memberi gula pahit untukku
Namun akan itu,,,
Aku banyak bersua ilmu

Untukmu aku mengadu
Keterbatasan raga dalam bergerak
Hari telah melangkah cepat
Waktu terus bergerak tepat
Aku masih bergerak disini, menikmati pahitnya hari
Mungkin ini,,,
Ini yang hadir menyapa ketentraman diri
Dengan hati yang lebar aku persilahkan
Itu semua membelai jiwaku
Semoga selepasnya itu semua
Aku akan lebih waspada dalam berjaga

Oh,,,
Tergores lemah dalam peta
Tertegun diam dalam uraian bahasa
Kehilangan pusaka sang pujangga

Ini,,,
Pesan pahitku yang menggigit
Di dalam sepi ku menanti
Datangnya hari yang mengakhiri
Cerita pahitku disini.

Kamis, 02 April 2009

Penghujung Bulan

Terikat dalam lorong kebutuhan
Membaur sunyi tanpa bunyi
Inginkah semua bersandar pada dinding batu intan
Yang terpajang dalam islamic jalan

Di penghujung bulan,,,
Dinanti dengan pengharapannya
Sebuah balas jasa akan karya yang dilakoninya
Di penghujung bulan,,,
Tampak hitam awan yang ku lihat
Tampak gelap angkasa yang tampak
Di penghujung bulan,,,
Tak seperti masa umumnya
Ku terjatuh dalam sebuah lorong waktu
Namun di situ ku melihat cahaya
yang jatuh tegak lurus dari atas
Menerangi gelap di setiap langkah
Memberi makna di setiap gerak

Sekedar buyar di penghujung bulan
Menyambut esok hari yang baru
Membuka pintu wahana baru
Dalam bayangan waktu yang tak semu.

Selasa, 10 Maret 2009

Tiga Belas Maret

Di lantai dua,,,,
Ku terduduk di depan kaca maya
Sambil terbelai oleh angin semilir
Memberi sejuk hari ini
Di sudut jendela kaca ku melihat
Panorama indah peta kota
Tampak lalu lalang kereta
Di setiap tapak yang tersedia
Tampak juga olehku
Hijaunya paru-paru kota
Namun bukan hal itu yang ku tuju
Hari esok tiga belas maret
Terhitung sembilan belas tahun usiamu
Usia seorang kawan satu perjuangan
Meniti kehidupan mandiri dalam sebuah kepanduan
Itu bingkisan yang tertinggal di masa lalu
Kini aku telah terhenti dalam berjuang
Menggapai cita dan harapan yang pernah saling tercurahkan
Bersama ingin berdedikasi pada bangsa
Mengabdikan diri untuk negara tercinta

Teman,,,
Bertambah kini jumlah usiamu
Melebar pula cawang kemandirian dan pengalamanmu
Semoga dengan bertambahnya umurmu
Dikau akan lebih mengerti arti sebuah persahabatan
Jangan pernah kau himpit masa yang lalu dengan sibukmu
Ingatlah masa saat berjuang dulu
Sebagai memori dalam diary kecilmu

Di tengah krisis yang melanda
Dikau masih berperang
Melawan sejuta persoalan
Memperjuangkan cita dan harapan

Sebagai kawan tak banyak mengatakan
Berjuanglah kawan,,,
Tunjukan ,,,
Lanjutkan,,,
Mungkin aku tak mampu menyusulmu
Mengejar, berlari dan berdiri di dekatmu
Bersama-sama berpatner di bawah garis pendidikan
Aku tahu betul tentangmu, yang mengerti semangatku
Satu yang ku pinta,,,
Lanjutkan semangatku dan wujudkan harapku melalui ragamu
Jangan kau merasa puas dengan suksesmu
Jika semua telah tercapai
Datanglah padaku, bawalah kabar gembira untukku

Hari ini ku persembahkan uraian kalimat untukmu
Selamat ulang tahun kawan
Hari esok halaman baru bagimu
Dan yakinlah bila suatu saat nanti kau berdiri
Aku kan bangga melihatmu
Semangatlah kawan, jangan kau tunggu aku
Berlarilah menuju istana itu
Untuk menggapai harapmu.

Sabtu, 07 Maret 2009

Nafas Kota

Hilir mudik tiada henti yang silih berganti
Terus memadati waktu tak kenal panas dan debu
Digertaknya sebuah kesibukan akan karya pangan
Menjadi tujuan bekal pengganjal kelaparan
Gemebyarnya sang sinar bagaskara
Memulai aktifitas manusia di lapangan kota
Menjadi padat pemukiman arus jalan raya
Menjadi sempit tatanan jalan yang ada

Sepenggalah mentari naik,,,
Menyapu embun di ujung rerumputan
Mengeringkan jalan tandus dan gersang
Hari semakin menaik,,,
Suhupun mulai memuncakan celciusnya
Banyak keringat bercampur lebur
Banyak asap saling membaur
Terasakanlah,,,
Akan sebuah nafas kota yang penuh deru

Di dalam sesaknya nafas kota
Tak tampak capung beterbangan menghiasi awan
Tak tampak juga burung bersahutan di tengah siang
Sungguh terdengar bising
Arus jalan menyembur solar
Arus jalan menyembur asap
Hingga aku tak mampu bernafas
Karena cerobong asap dimana-mana
Mungkin ini nafas kota
Yang mulai sesak karena raya
Membungkus paru-paru dalam debu nyata
Yang banyak merusak nyawa kota.

Rabu, 04 Maret 2009

Selendang Ungu

Sehelai kain yang memanjang
Tergibas dengan sabet gemulai
Mengindah dengan rumbai-rumbainya
Mengisi estetika di setiap gerak tubuhnya
Ekspresi itu makin tampak
Membalut kuat panggung hiburan

Selendang biru,,,
Masih tersimpan rapi dalam almari
Terjaga suci kenangan yang menjadi
Bahan materi hidup memberi

Di pesisir selendang biru
Menguak kenangan perjuangan berkarya
Hadapi masa penuh gejolak

Selendang itu,,,
Mendarah seni dalam nadiku
Mengurat kuat dalam darahku
Karena panganku ada karena rumbai selendang itu
Kini tak lagi mengawan
Karna hanya tinggal kenangan
Menyisakan kalimat dalam balut cerita
Sang ayah bunda dalam mengisi keluarga

Kenangan itu tekah mengakar
Mengendap rata dalam palung jiwa
Melekat kuat dalam beranda rasa
Satu helai selendang ungu
Membantu pangan daya hidup
Meski kenangan yang kini tertinggal
Meski simpanan yang memberi kenangan
Saat yang sunyi aku merindukan
Gibasan lembut selendang ungu

Rumbainya,,,
Gemebyar menguasai masa
Mengkilat bagai sang sutra
Memancarkan sinar pantulan cahaya
Dengan segenap kisah berliku
Aku berteduh semasa kecilku
Di bawah selendang ungu itu.

Selasa, 03 Maret 2009

Untuk Adikku

Di atas sofa putih
Engkau tarbaring perih
terdampar dalam husada yang kritis
Menghirup uap-uap kimia
Meminum cairan-cairan berisi
Menelan butiran-butiran pahit
Dengan maksud membebaskanmu dari sakit

Husada tetangga
Tak mampu memberimu asi
Perawatan medis yang penuh keterbatasan
Akhirnya,,,
Pesawat putih mengantarmu ke kota
Mencoba kiat di sana

Adikku,,,
Dari kejauhan kakak meraba hatimu
Keprihatinan akan awakmu
Belum itu,,,
Ujianmu sudah di ambang pintu
Peperanganmu sudah menunggu di kelopak matamu

Adikku,,,
Lapangkanlah dadamu, untuk maju
Bertahan kuat untuk mengejar ketertinggalanmu
Meski begitu
Asahlah keenam keris-keris itu
Kuasailah Senjata itu, agar engaku bisa memakainya

Adikku,,,
Berjuanglah untuk maju melawan sakitmu
Bangkitlah dari kasur putihmu
Tinggalkan tempat itu, segeralah berlari mengejar materi

Percayalah adikku
Engkau pasti mampu melaku
Di seperempat subuh kakak menderu
Menghias layar untuk adikku.

Di Ujung Pagi

Terdampar lemah
Masih melangkah untuk membuntal nafkah
Sayup mata tak kuat berkedip
Membesat membuka jendela surya
Fajar pun tiba merangkul cerita
Musibah menimpa merangkul suasana


Kini,,,
Monitor itu telah lepas
Meninggalkan tanggung jawab sang penjaga
Membebankan jiwa di pundak laksana
Pagi telah membuta
Menjereng cerita dalam keranjang bahasa
Tindaknya sebuah salah
Di setiap lalai yang meraba
Namun itu kewajaran manusia
Sudahlah,,,
Nasi itu telah membubur
Tak mungkin dapat kembali lagi

Di ujung pagi
Terangkum sekelumit cerita yang menyiksa
Perasaan jiwa yang sesaat
Namun,,,
Jiwa harus membawa tekad dan tanggung jawab

Di ujung pagi ini
Terketik perlahan huruf hati yang sedih
Di atas bantalan papan biru
Jiwa percaya akan hikmah ilmu
Tiada suka , tiada duka
Tiada musibah, tiada hikmah
Pelajaran hidup yang berarti
Pengalaman hidup membawa hikmah diri

Dia memang hadir
Merusuhi kenyamanan hati
Ku biarkan dia menari dan bernyanyi
Sepuas gerak lidi
Selepasnya dia pulang dari sini
Kuat tercapai di raga ini.

Minggu, 15 Februari 2009

Sobat

Sobat…
Setajam apapun kerikil yang menghalangimu
Sekeras apapun batu yang menyandungmu
Itu adalah warna hidupmu, warna hidupku
Biarkanlah semua itu menyapa ketenangan jiwamu
Berat pula ku katakan
Sebuah perpisahan tanpa pertemuan
Hilang sudah kesempatan masa berpatner
Rupanya…
Waktu berkata lain
Matahari beranjak naik untuk menyinari bumi
Dengan cahaya yang suci nan abadi
Di bawah terik kita menjauh, meski kesempatan telah mendekat
Di sini tiada lagi pelangi yang menyanyi
Menyaksikan kerukunan diri
Namun…
Kedua bola mata ini tak sanggup menampung
Cucuran air mata yang ada

Sobat…
Aku berdiam diri di atas kursi
Mengukir cerita pahit akanmu
Bersabarlah selalu
Untuk berpayung dari jatimu
Moga sukses menyertaimu.

Jumat, 13 Februari 2009

Tiada Daya

Menatap sayu pada malam yang semakin mencekam
Tertunduk pada sebuah takut yang semakin menggelut
Tiada daya jika sang raja berkata dengan tegasnya
Karna dia adalah sang raja dalam sebuah istana
Lepaslah kenyamanan itu
Termenung di sudut pintu dengan jiwa yang ragu
Inikah kiasnya hamba sahaya yang termangu dalam ruang maya
Umbaran jiwa yang tegang semakin menggenang
Dibelai manis oleh sebuah semribit angin malam
Biarkanlah ini masuk dalam sendunya palung jiwa
Biarlah ini mampir dalam indahnya beranda raga
Untuk berhias membalut salah dan melukis makna

Runtuhnya malam ini memberikan gambaran sebuah ketakutan
Pada seorang yang menjadi pujangga perantauan
Mungkin ini adalah serpihan kerikil yang terdampar
Di sepanjang jalan kota kembang
Pada dedauan yang membesat aku tak mampu bertanya
Pada rumput-rumput yang menjalar pun aku tak mampu berdepat
Sampai kapankah hawa panas menghangati beranda hati ini
Sampai insan meninggalkan alam semesta ini

Ini bagian dari sebuah konsekuensi
Yang sejatinya memang harus dijalani
Memberi nilai di setiap penghujung waktu
Menjadi mesin pengepul materi di setiap hari
Terkadang aku bertanya pada bara yang membara
Dimana percik air yang mampu membasahi dada
Kini sang raja telah berubah
Jarangnya memberi sapaan yang lembut
Aku semakin takut padanya
Karna dia adalah orang tuaku di medan berkarya

Aku semakin sedih, jika sang raja benar-benar berubah
Tak lagi mengerti rentanya kekuatan ini
Ku akui aku memang tak mampu
Tak seperti, tak dapat memberi suguhan yang memuaskan
Jika aku harus bertanya, kepada siapakah?
Sementara kawan berkarya
Orang yang cakap dalam bidangnya acuhkan semuanya
Hanya amarah yang terlampiaskan pada sekitarnya

Dalam kota kembang ini
Ku meracik kata hati yang takut
Semakin larut bulan purnama semakin aku takut kepadanya
Ini semua yang membuatku ingin kembali
Berada dalam pangkuan sang ibu
Meminta perlindungan, dari banyak tekanan
Disini hanya tetes air mata yang mampu terlinangkan
Sesungguhnya,,,
Ingin rasanya aku bercerita
Pada orang nomor satu di istana
Namun aku takut padanya
Akan murka atas peristiwa yang sesungguhnya.

Rabu, 21 Januari 2009

Serangkai Bahasa Cinta

Di sebelah sunyi ‘ku menanti
Sekuntum melati yang kian mewangi
Semerbak mengisi ruang emosi
Menghibur sepi yang sedang jatuh hati
Pada insan yang kini menjadi teman berbagi

Terasa sekali akhir-akhir ini
Dia datang menghapus tangis
Dia datang mengundang senyum manis
Dia hadir mengisi hari yang sendiri
Dia hadir memberi makna hidup yang lebih berarti
Dia singgah menuangkan sejuk pada jiwa yang pernah kecewa
Dia singgah menyapu sampah yang sudah tiada guna

Terima kasih cinta
Kau datang membawa makna
Memicu semangat untuk kembali
Dalam sebuah gelora pupus melody

Semoga aku dapat menerima
Membiarkan dirimu masuk dalam tanjung asmara
Menikmati indahnya kebersamaan yang penuh tawa

Sayang, aku belum mengenal penuh
Tentangmu seutuhnya
Wajah ayumu pun aku tak tahu
Hanya kata-katamu yang dapat ’ku baca
‘Ku nilai dan ‘ku pahami tentangmu

Ruang mayalah yang mempertemukan
Seikat tali persahabatan
Yang memulihkan pesona cinta
Pesona kasih pada sesama yang tak pandang rupa
Pesona sayang pada si dia yang tak pandang usia
Inikah asmara yang sedang menggelora di lubuk jiwa?

Di layar putih yang penuh garis
‘ku menyulam makna dalam kata
‘ku merenda kata dalam kalimat
‘Ku satukan kalimat menjadi padu
‘Ku haturkan serangkai bahasa jiwa
Dengan segenap perasaan di dada
Sederet sajak curahan telah tercipta
Untuk menghiasi harimu di sana.

Tanda Tanya

Duduk sendiri dalam sepoi angin yang lembut
Aku melamun tanpa daya dalam kondisi nyata
Melihat perjuangan seorang kawan
Dalam melanjutkan suatu jenjang pendidikan
Stabilnya detik jam yang berputar
Membuat semakin cepat jantungku berdetak
Dengan iri, sedih dan bimbang
Tetapku ucapkan selamat berjuang teman

Menjadi tanda tanya pendidikanku
Cukup atau tertunda dalam mengejar cita-cita
Berdedikasi pada bangsa, mengabdi untuk Negara
Menjadi nyata ataukah akan binasa ?
Aku semakin menjadi teratai
Hidup dalam medan yang gersang
Di bawah terik sinar kemarau panjang
Kehidupan sangat renta dan penuh derita
Dalam melangsungkan kehidupan barunya
Meski begitu sebuah harapan melintas selalu
Mendung akan memberikan hujan
Hujan akan mengguyur kegersangan
Dan semua akan berubah menjadi kesuburan
Bisakah, semangat itu bersemi kembali ?
Dan tak akan membiarkan
Semua menanti batas usia

Tetap terambisi, mengejar suatu profesi
Suatu nanti bisakah aku berjuang kembali ?
Mengejar dan meraih keinginan hati
Aku tak tau

Seiring waktu yang tertunda
Tak pantas ku membiarkan
Mengisi batas usia hanya dalam kegelisahan
Pendidikan hidupku dalam vakultas hatiku
Pilihan hidupku adalah masa depanku
Yang sampai saat ini belum ku tahu.

Kegelisahanku

Awak lemah terbaring kaku
Tertutup bayangan yang tak menentu
Awak renta terbujur membatu
Di atas bantalan padat sofa ungu
Awak mencoba kuatkan diri
Dengan aktivitas penuh kreasi, imajinasi

Tampak mulai padang….
Persawahan dan perkebunan yang membentang
Seperti awakku yang sedang gersang
Menjalani hidup penuh cobaan
Merasakan sakit yang kian bersilih
Yang membuat kegelisahan

Benarkah ini cobaan?
Mudah-mudahan bukanlah siksaan
Semoga kesembuhan segera datang
Menghampiri dengan tawa riang

Hari demi hari yang penuh lara ini
Hanya kegelisahan yang selalu menemani
Hanya kebimbangan yang selalu menyertai
Hanya ketakutan yang selalu menghantui
Bisakah awak melewati ini semua?

Bintang di langit memancarkan sinarnya
Rembulan malam menerangi malam-malamnya
Selalu tampak berkilauan
Dalam setiap perputaran galaksinya

Kegelisahanku…..
Menghadapi lara jasmani hidupku
Tak hilang dalam hari-hariku
Saat menyelimuti fisikku
Tuhan ku mohon sembuhkanlah aku
Dari hal yang meresahkanku
Dari hal yang menyedihkanku
Menggelisahkanku.

Seratus Tahun Kebangkitan Negriku

Dua puluh mei yang cerah
Terkenang semua semangat juang
Satu abad suatu kebangkitan
Kebangkitan nasional
Perhelatan seni, militer, budaya siap digelar
Pertunjukan, upacara, aneka hiburan siap dilaksanakan
Semua terjun dalam setiap komponen

Rasa pilu tersimpuh dalam kalbu
Melihat dan menyaksikan
Kekejaman para penyeleweng, para koruptor
Hidup merajalela menindas rakyat
Dan bertindak sewenang-wenang

Nasionalisme…….
Mulailah bangkit kembali semangat bangsaku
Rebut kembali kedamaian negriku
Patriotisme…
Tunjukan lagi indonesiamu
Raihlah lagi kemenangan bumi pertiwi

Kebangkitan negriku…..
Berkibarlah selalu merah putihmu
Tunjukan kegagahan dan keberanianmu
Yang akan menjunjung tinggi martabat tanah airku
Oh….kebangkitan negriku
Seratus tahun ku berada dalam naunganmu
Satu abad dalam perjalanan hidupku

Di hari ini terdengar merdu olehku
Lantunan lagu-lagu kebangsaanmu
Dengan pusaka abadi nan jaya
Indonesiaku
Mari wujudkan semangat kebangkitan
Kebangkitan nasional tanah airku
Indonesia…! Indonesia…!
Tanah tumpah darahku
Bangkit segera dari lamunmu
Yang mampu mendobrag penjajahan meliku
Hingga tercapai tatanan nusantara baru
Dengan tekhnologi yang semakin maju
Jayalah untukmu…..kebangkitan negriku
Indonesiaku.


Dirangkai: 20 Mei 2008
HARKITNAS

Ayat-Ayat Suci Darimu

Telah usai hajat sang praja
Telah terlantik tiga dua pahlawan bangsa
Melapis semangat dengan patriot muda
Mengemban tugas tanggung jawab janji dan etika

Senyap remang – remang
Dipanggilnya ucapan kakak dengan lantang
Diucapkannya ucapan selamat menyongsong kehidupan
Sembilan belas tahun semoga tercapai cita dan harapan
Dirabannya kotak kecil dari saku pramuka
Diambilnya sebuah kado istimewa
Diberikannya dengan ucapan lemah olehnya
Kepada kakak yang sangat di cintainya

Semakin gelap perjalananku menuju sanggar
Tak terlihat benderangnya sinar yang menghadang
Hanya tampak galaksi dan rasi bintang
Dan sepasang kunang-kunang yang beterbangan
Tak terasa olehku
Singgahlah aku dalam pesanggrahanku
Ku tertegun dan teringat bingkisan istimewa darinya
Penuh melody aku membukannya
Hati bergetar setelah melihat
Kumpulan ayat-ayat suci di depan mataku
Rangkaian surat-surat suci yang telah membuku di depanku

Sungguh…..
Kau adikku yang pengertian
Kau harapkan ketulusan dan keikhlasan
Menjalani hidup dalam ruang gelap terang
Terima kasih adikku
Terima kasih bingkisan suci darimu
Namun, dalam hatiku masih mengiang
Banyak kata yang tak sempat tersampaikan
Meski harus tetap terungkapkan
Terima kasih, adikku sayang.


Dirangkai:1 mei 2008
Selepas Hari Ultah

Perang Penentuan

Tajam nya pedang yang telah terasah
Tak setajam pedang yang di barat sana
Runcingnya goresan bambu – bambu juang
Tak seruncing goresan bambu yang di barat sana
Namun mereka bersusah payah
Mengasah, membasuh, mengayumi dan memberi
Motivasi diri serta solusi untuk pribadi
Dalam medan pertempuran hidup dan mati

Menjelang dua dua peperangan nanti
Selalu disiapkan bekal untuk menghadapi
Siapkan diri, materi, spirit dan hati
Mengikuti perang yang penuh hati-hati
Oh……
Gelisahnya hati ini
Membayangkan perang esok yang menanti
Semoga hilang deret keraguan
Semoga sirna barisan ketidakpastian
Semoga muncul jiwa semangat keoptimisan
Bahwa bisa menang peperangan

Ya Alloh….ya Tuhan….
Berikanlah petunjuk, jalan dan kemudahan
Dalam menghadapi perang
Tunjukanlah cahaya rahmatMu pada diri ini
Karena…….
KebesaranMulah yang bisa menolong
Mengabulkan segala bentuk permintaan hamba
Hamba yang sedang takut menanti datangnya hari
Perang perang dan perang

Tapi tak akan lepas dariku
Do’a dan restu ayah bundaku
Mendorong untuk berusaha dan maju
Menghadapi peperangan yang berat
Aku pun berusaha menyiapkannya
Semua dan segala kebutuhannya
Semoga perang yang kan terlaksanakan
Akan membawa kemenangan
Ujar hati menempuh ahir kajian
Membawa nyata lulus ujian.


Dirangkai: 20 April 2008
Menjelang Ujian Nasional

Engkau Bukan Yang Dulu Lagi

Penuh kasih, hari menyertai
Tak kala waktu pandang pagi
Selalu tampak olahan cinta asmara
Mengalir terus apa adanya
Tak akan pernah memandang haluan
Rintangan yang kian selalu menghadang
Tetap terlihat wajah ayu penuh rona
Tetap berseri membayangi hari – hari


Mungkin….
Harapan itu telah terhempas jauh
Hilang sudah keinginan qalbu
Hanya tepukan sebelah tangan yang mengiang
Mengiringi keseharianmu yang gersang
Namun akan tetap teringat selalu olehmu
Kenangan manis semu memiliki diriku


Kini diriku terbuai dalam kekecewaan
Meniti sikapmu penuh ragu dan tak pasti
Ucap kepahitan yang membawa penyakit
Hilang harapan dan beribu kepercayaan
Meski yang ada membawa luka
Katakanlah dengan hati penuh kejujuran
Jika tidak katakanlah tidak
Namun jika iya katakan iya pula


Fajar ini……
Aku telah tau tentang dirimu
Kini engkau bukanlah yang dulu lagi
Yang selalu memberi cinta dan asmara
Memberi arti hidup dan motivasi
Keberadaan dan kehadiranmu kini
Adalah ranjau pahit rasa di hati.

Jumat, 16 Januari 2009

Yang Masih Misteri

Remang-remang tanpa bayangan
Tak jelas di pelupuk mata yang kian menjauh
Semakin terfikir hal itu, semakin tak tampak dariku
Semakin tertata semua, semakin berantakan tatanan itu
Sebuah asa yang selalu berkunjung
Menemani malam dalam lelapnya impian
Sebuah cita yang tak henti mengiang
Membisiki telinga dalam gemuruhnya harapan
Di dalam jengkal ukuran yang menghasilkan hitungan
Terlalu jauh dari sorot pandangan untuk dilakukan
Yang membuat pilu, ragu untuk kedepan
Begitu berat kaki untuk dilangkahkan
Karena banyak sekali lubang-lubang yang berurutan
Yang memancing iba, dalam titik sudut kehidupan

Tempo yang telah berganti
Meninggalkan sebuah pesan bijak
Hindarkan keraguan dan kekecewaan
Dalam berjalan di bawah lilitan benang-benang
Jika memang itu adalah jalan yang telah digariskan
Suatu saat pasti akan aku temukan

Kenyataan hidup yang menghiasi jagat raya
Tak selalu sama dengan harapan manusia
Ramai raga focus menjadi puspa keluarga
Sepi jiwa dalam meratapi kandasnya asa
Masa depan dicari sebagai bekal hidup nanti
Namun……..
Masa depan itu sebuah misteri
Tiada yang tahu skenario yang akan terjadi
Banyak orang memasuki misteri itu
Gagal membawa cita, hanya sengsara yang dipangku
Banyak juga kabar beritanya
Mereka keluar dari sebuah misteri
Dengan keberhasilan yang membanggakan hati

Masa lalu dikaji sebagai bahan intropeksi
Karena………
Pahit manisnya menyimpan memori
Di setiap celah yang membawa hikmah diri.

Selasa, 06 Januari 2009

Jika Aku Kembali

Jika aku kembali kesana…
Aku akan kehilangan tawanya
Jika aku kembali merantau…
Aku akan kehilangan senyum yang memukau
Jika aku kembali berkarya
Aku akan kehilangan gerak lucunya
Jika aku kembali kesana…
Aku akan kembali mendapatkan lara
Jika aku kembali kesana…
Aku akan kembali mengorbankan rasa
Jika aku kembali kesana…
Aku akan memulai rindu dengannya
Jika aku kembali kesana…
Aku akan dicekam takut dalam gejolak jiwa
Jika aku kembali kesana…
Aku pasti akan teraniaya
Oleh seorang teman kerja
Yang tak senang akan keberadaan diri di sana

Tapi….
Aku harus kembali kesana
Mencari bekal hidup dunia
Mencari penukar sesuap nasi
Untuk memberi, perut yang tak terisi
Namun saat ini..
Aku akan kembali kesana
Membawa gelisah di palung jiwa
Yang sedang porak poranda
Menghadapi akan kandasnya asa
Kembalinya kesana…
Dengan sebuah sorot mata yang tak berdaya
Kembalinya kesana…
Dengan pesan yang masih maya
Ya Tuhan….
Tunjukan jalan
Menjemput cita dan harapan

Senin, 22 Desember 2008

Puisi Untuk Ibu

Mutiara Kasih Ibu

Ketika malam menguasai ladang hatiku
Aku terdiam bersama lamunan
Mengingat dan teringat kasih ibu kepadaku

Ibu….
Dengarkanlah suara hatiku yang semakin berdering
Menjerit, memanggil-manggil namamu
Mengharapkan belaian yang meneduhkan

Ibu….
Engkau adalah istana kedamaian untukku
Pembangkit jiwa yang terlena
Penarik semangat yang telah patah

Ibu….
Masa kecilku tak pernah lepas dari kasihmu
Kini aku telah tumbuh menjadi putra yang tampan
Tampan di matamu sebagai buah hatimu

Tapi, ibu….
Aku selalu mengingat
Betapa banyak aku menyusahkanmu
Perjalanan hariku semasa kecil
Dirundung lara dalam raga yang lemah
Dan kini aku bukanlah anak kecil lagi
Kala ku ingat masa-masa itu
Tangis sedu bahagia ku memilikimu
Dalam setiap langkahmu
Mengandung makna di setiap kesehatanku
Dalam setiap tetes matamu
Menyimpan bahagia memandangiku
Karena….
Kini aku telah tumbuh
Menjadi anak yang besar

Oh ibu….
Maafkanlah anakmu ini
Yang telah banyak menyusahkanmu
Yang telah banyak merepotkanmu
Kini….
Aku sangat merindukanmu
Tunggu aku ibu
Aku akan pulang dari zona ini
Meminta perlindungan dari kekejaman zaman
Meminta pengayuman dari penindasan metropolitan

Ibu….
Tak berdaya hidupku tanpamu
Hanya do’a dan restumu yang senantiasa
Mengiringi langkahku
Ibu….
Kini aku telah mengenal dunia
Restuilah aku ibu….
Agar aku dapat menjemput harapku
Do’akan aku ibu….
Agar aku dapat menemui citaku

Di sini….
Dua dua Desember ini
Kurangkai syair untukmu
Ini ungkap kasihku
Untukmu Ibuku.

Selasa, 25 November 2008

Sepeda Onta Milik Pak Guru


Sepeda onta itu masih ku ingat selalu
Sepeda onta itu pernah ku bonceng waktu dulu

Sepeda onta itu aktif berjuang tanpa keluh

Sepeda onta itu membuat ringan karyamu

Sepeda onta itu selalu mengantarkanmu

Sepeda onta itu banyak jasa yang tak terhitung

Sepeda onta itu mengiringi perjalanan selalu

Sepeda onta itu membuatku bangga akanmu

Sepeda onta itu kau kayuh selalu

Sepeda onta itu menjadi teman perjuanganmu

Sepeda onta itu aktif membantumu

Sepeda onta itu ikut mencerdaskan anak bangsa

Sepeda onta itu adalah teman karib pak guru

Sepeda onta itu sahabat sejati pak guru

Sepeda onta itu memang milik pak guru

Membantu pak guru.............

Menemani pak guru........

Menyayangi pak guru.............

Mengantarkan pak guru...........

Pulang pergi bersama sepeda onta milik pak guru.

Senin, 10 November 2008

Sepuluh November


Indonesia......
Negeri tercinta
'ku jejakan kakiku di atas kemerdekaanmu
'ku singgahkan ragaku dalam atap kebebasanmu
Sepuluh November ini begitu banyak menyimpan banyak nota
Nota kepahlawanan dalam medan perjuangan
Meraih kebebasan, hindarkan ketidakadilan
Memberantas kesewenang - wenangan
Dari tangan para perusak jiwa bangsa dan negara


Pahlawan negeriku..........
Akan selalu bersemayam jasa luhurmu dalam benakku
Akan selalu teringat perjuangan dan pengorbananmu
Sungguh.........
Tak sanggupku membayangkan kala perangmu datang
Melawan penjajah dengan penuh kegigihan
Siang malam jiwa raga kau korbankan
Panas hujan tak pernah kau hiraukan
Berlari kencang satu untuk memperjuangkan
Kemerdekaan


Peperanganmu begitu kuat meski berbaring
Disertai tajamnya pusaka bambu runcing
Kau serahkan sekuat jati yang kering
Sampai suara tak lagi mampu untuk melengking


Kini........
Jerihmu telah ku rasakan
Betapa nikmatnya kehidupan di alam kemerdekaan
Tersingkir dari segala bentuk penindasan
Terhapus dari segala bentuk ketidakadilan
Namun.......
Negeri ini sedang dilanda hujan
Hujan kriminal dan gerimis bencana
Yang datang kian beruntun
Yang hadir kian bersusul
Tampak hanya meresahkan bangsa
Bersama masalah disintegrasi bangsa


Pahlawan negeriku
Semoga muncul benih perjuanganmu
Tumbuh meneruskan peperanganmu
Di suatu medan yang baru
Dalam sepuluh november ini
'ku ucap hari pahlawan untukmu
Patriot besar pahlawan bangsa
Pahlawan Indonesia.


Sabtu, 08 November 2008

Awan Kenangan















Di tengah hamparan tanah lapang
Di panas terik sang raja siang
Teringat selalu kebersamaan berpetualang
Teringat selalu perjuangan yang begitu meyakinkan
Bersama siapa diri melangkah dah melaksanakan...............
Seorang kawan


Perjalanan berliku memasuki hutan
Tak memangkas kobaran semangat diri dan kawan
Meski naik turun memeras keringat
Meski jauh nengeraskan kaki
Namun satu tetap menjadi pegangan suci
Menjadi pecinta negeri dalam naungan bersama sahabat sejati

Di ujung acara yang menyapu banyak teriakan
Terlihat kompak para kesatria yang berjejeran
Tampak meramai tepuk tangan yang bersahutan
Terdengar indah lantunan syair dalam barisan
Menghapus letih di sekujur letihnya badan

Dalam puncak sengat benderang siang
Melambai - lambai dedaunan hijau di sekitar lapangan
Seribu langkah telah terjalankan
Ditemani terik dan kocaknya pepohonan
Sekelumit bahasa memancing tuk mengungkapkan
Tatanan rapi dalam kemasan awan kenangan

Pengembaraan penuh ksatria dalam alam terbuka
Disertai tulus dan berjiwa pancasila
Pengabdian pada negeri dalam usia dini
Mencintai alam di atas bumi pertiwi
Menjaga negara dengan melestarikan budaya
Untuk siapa tindak dan tanduk tersketsa
Untukmu negeri Indonesia


Petualangan yang memakan banyak resiko
Mempertebal rasa cinta pada negeri kelahiran
Sejuta pena telah melayar sertakan
Sebuah kisah yang mengukir awan kenangan
Awan kenangan.........
Telah muncul di permukaan
Menjadi kenangan di suatu kehidupan
Bersama kawan sebagai menu persahabatan.

Kamis, 06 November 2008

Di Taman Kopo


Di sini..............
Insan sendiri
Sendiri tiada yang menemani
Tiada teman untuk berbagi perasaan
Tiada kawan untuk berbagi rasa senang
Tiada teman yang tahu, hati yang perih
Tiada kawan yang tahu, hati yang sedih

Kesendirian di kota kembang ini
Terasa ramai sepi di hati
Mengiringi kegundahan qalbu
Memikul pilu dengan langkah penuh tangis
Mampukah insan bertahan dengan kesedihan yang terasakan....
Dalam keidahan Taman Kopo
Insan belajar meniti kehidupan yang mandiri
Perjalanan dihiasi ilalang dan teki
Namun, terasa berat perjalanan itu
Perjalanan yang penuh jinjingan kesalahpahaman
Terasa berat beban rasa yang harus disimpan
Hati yang gundah menghadapi ketidak cocokan


Sungguh...............
Terasa sendiri hati yang gulana mengemban derita
Derita qalbu yang menyimpan banyak memori

Kemanakah diri harus mengadu.........
Mencurahkan kegelisahan hati yang pilu

Di sepanjang jalan kota kembang
Tampak hijau dedaunan yang menawan
Mengisi kekosongan mata di setiap penglihatan
Mengisi kota dengan penuh kesejukan
Namun............
Perjalanan yang akan ditempuh masih begitu panjang
Belum sejengkal dalam setiap tahap hitungan

Ya Tuhan...................
Kirimkanlah malaikat-Mu untuk menjadi sahabat
Sahabat sebagai tempat berpendapat
Sahabat sebagai teman curhat
Dalam zona perantauan ini....
Qalbu selalau merasa sendiri
Hanya gemuruh permainan yang mengelilingi
Hanya dunia maya yang selalu menyelimuti
Kirimkanlah segera malaikat-Mu kesini
Agar insan kerasan tinggal dalam medan perantauan
Karena, insan punya sejuta harapan
Namun insan tak mampu mengungkapkan
Di tengah persoalan yang membuat kebimbangan
Tampak indah terlihat bunga di setiap sudut kota kembang
Tampak mekar, kembang menari dan bergoyang
Menghiasi siang di sepanjang jalan
inilah Taman Kopo penuh kenangan

Ya Tuhan..................
Berikanlah kekuatan dan ketabahan
Menghadapi cobaan dan rintangan
Kini raja siang tak lagi benderang
Siang berganti malam tiba
Desir angin malam menyapa kegelisahan
Dinginnya kelam menusuk pori jangat insan
Penuh cekam kala membelai perasaan

Lewat syair penuh memori ini
Ku rangkaikan kata demi kata
Ini ungkapan sejuta rasa
Dalam Kopo Indah yang penuh makna.

Puing - Puing Embun

Puing-Puing Embun

By : Dwi Tulus Panewun

Ku sapa sang bagaskara

Di sudut cerah suasana pagi

Ku duduk di balik tirai senja

Yang membentang di atas batas cakrawala

Terduduk manis menanti layar sastra yang indah

Rintik hujan yang berloncatan

Menahanku yang akan pergi

Ku tetap disini menanti datangnya hari

Hingga fajar bersemi kembali

Hujan tangis tak kunjung reda mengiringi

Kehidupanku sejak dini

Namun tak kan putus akan asa

Menuntut ilmu dan menelusuri kehidupan yang lebih mandiri

Pada rintik hujan yang bernyanyi

Aku bersumpah tuk melindungi

Benih-benih cemara yang mengambang

Mengharapkan pertolongan dan belas kasihan

Aku harus mengasuh dan melindungi

Cemara itu hingga menjulang tinggi

Kata adalah wujud permohonan manusia

Kan ku jaga lisanku semoga tak ternoda

Ku sertakan harapan di setiap nafas yang kuhela

Ku jaga selalu batinku

Untuk orang yang akan memilikiku

Ranting hati yang pernah merapuh

Kini sirnah sudah

Puing-puing embun membalut hati yang sepi

Menyirami indahnya bersama sahabat sejati

Embun pagi tak pernah jera menghiasi hati

Kala insan terbangun dari mimpi

Meski pelangi menghalangi mentari

Tuk menyinari dunia ini

Namun sastra ini tak kunjung sepi

Menghiasi harimu di senja hari.