
Di kala mata berkedip ada sebuah bayang-bayang
Di kala mata sedang tepejap ada sebuah remang-renang
Ada gerak langkah semu ke masa yang lalu
Ada bingkisan album biru di pelupuk mataku
Yang membuat pikirku melayang
Kau selalu menyapa ketentramanku
Di setiap saat-saatku mengharapkanmu
Kini kau jauh
Ku tak mampu menatap wajahmu yang sendu
Ku ingat selalu tirai tawamu yang lugu
Yang selalu membuat senyum bibirku
Kini ku hanya mampu membendung rindu
Di seutas pemisah jarak dan waktu
Dengan sepenggal kenangan yang telah lalu
Aku kini di seberang jalan
Hanya bisa menunggu waktu
Untuk melepas jera kerinduanku
Alam dimensi pikiranku telah terhanyut
Terbuai dalam sebuah gelora kerinduan
Dihantui rindu di setiap celah yang tertuju
Kau sealu membasahi ruang emosiku
Dengan sajak do'a mu yang kau kirim selalu
Hatiku bertanya pada pelangi hari ini
Mampukah aku membendung rindu...
Warna-warnimu yang memukau
Seperti ragam persahabatanku
Di waktu yang lalu
Kini hanya cerita yang mampu tergores dalam maya
Kini hanya pena yang mampu tertinggal dalam bahasa
Serangkai kata memuat cinta
Serangakai kalimat mengandung makna
Sederet sajak Ungkap cerita
Kerinduanku pada mereka.
Sabtu, 16 Mei 2009
Pelangi Hari Ini
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 10:44 1 komentar Link ke posting ini
Sabtu, 25 April 2009
Pesan Pahit Untuknya
Mendung masih membendung
Membangun cerita di setiap goresan pena
Mengisi curahan dalam layar maya
Memberi arti untuk mengungkap kelegaan dada
Untukmu aku bercerita
Di sini aku tersandung baja
Berat ku pikul namun ku memikul
Berat ku emban namun tetap ku emban
Itu sandarku dalam membangun bahuku
Istana ini, memberi gula pahit untukku
Namun akan itu,,,
Aku banyak bersua ilmu
Untukmu aku mengadu
Keterbatasan raga dalam bergerak
Hari telah melangkah cepat
Waktu terus bergerak tepat
Aku masih bergerak disini, menikmati pahitnya hari
Mungkin ini,,,
Ini yang hadir menyapa ketentraman diri
Dengan hati yang lebar aku persilahkan
Itu semua membelai jiwaku
Semoga selepasnya itu semua
Aku akan lebih waspada dalam berjaga
Oh,,,
Tergores lemah dalam peta
Tertegun diam dalam uraian bahasa
Kehilangan pusaka sang pujangga
Ini,,,
Pesan pahitku yang menggigit
Di dalam sepi ku menanti
Datangnya hari yang mengakhiri
Cerita pahitku disini.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 12:12 1 komentar Link ke posting ini
Kamis, 02 April 2009
Penghujung Bulan
Terikat dalam lorong kebutuhan
Membaur sunyi tanpa bunyi
Inginkah semua bersandar pada dinding batu intan
Yang terpajang dalam islamic jalan
Di penghujung bulan,,,
Dinanti dengan pengharapannya
Sebuah balas jasa akan karya yang dilakoninya
Di penghujung bulan,,,
Tampak hitam awan yang ku lihat
Tampak gelap angkasa yang tampak
Di penghujung bulan,,,
Tak seperti masa umumnya
Ku terjatuh dalam sebuah lorong waktu
Namun di situ ku melihat cahaya
yang jatuh tegak lurus dari atas
Menerangi gelap di setiap langkah
Memberi makna di setiap gerak
Sekedar buyar di penghujung bulan
Menyambut esok hari yang baru
Membuka pintu wahana baru
Dalam bayangan waktu yang tak semu.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 03:47 0 komentar Link ke posting ini
Selasa, 10 Maret 2009
Tiga Belas Maret
Di lantai dua,,,,
Ku terduduk di depan kaca maya
Sambil terbelai oleh angin semilir
Memberi sejuk hari ini
Di sudut jendela kaca ku melihat
Panorama indah peta kota
Tampak lalu lalang kereta
Di setiap tapak yang tersedia
Tampak juga olehku
Hijaunya paru-paru kota
Namun bukan hal itu yang ku tuju
Hari esok tiga belas maret
Terhitung sembilan belas tahun usiamu
Usia seorang kawan satu perjuangan
Meniti kehidupan mandiri dalam sebuah kepanduan
Itu bingkisan yang tertinggal di masa lalu
Kini aku telah terhenti dalam berjuang
Menggapai cita dan harapan yang pernah saling tercurahkan
Bersama ingin berdedikasi pada bangsa
Mengabdikan diri untuk negara tercinta
Teman,,,
Bertambah kini jumlah usiamu
Melebar pula cawang kemandirian dan pengalamanmu
Semoga dengan bertambahnya umurmu
Dikau akan lebih mengerti arti sebuah persahabatan
Jangan pernah kau himpit masa yang lalu dengan sibukmu
Ingatlah masa saat berjuang dulu
Sebagai memori dalam diary kecilmu
Di tengah krisis yang melanda
Dikau masih berperang
Melawan sejuta persoalan
Memperjuangkan cita dan harapan
Sebagai kawan tak banyak mengatakan
Berjuanglah kawan,,,
Tunjukan ,,,
Lanjutkan,,,
Mungkin aku tak mampu menyusulmu
Mengejar, berlari dan berdiri di dekatmu
Bersama-sama berpatner di bawah garis pendidikan
Aku tahu betul tentangmu, yang mengerti semangatku
Satu yang ku pinta,,,
Lanjutkan semangatku dan wujudkan harapku melalui ragamu
Jangan kau merasa puas dengan suksesmu
Jika semua telah tercapai
Datanglah padaku, bawalah kabar gembira untukku
Hari ini ku persembahkan uraian kalimat untukmu
Selamat ulang tahun kawan
Hari esok halaman baru bagimu
Dan yakinlah bila suatu saat nanti kau berdiri
Aku kan bangga melihatmu
Semangatlah kawan, jangan kau tunggu aku
Berlarilah menuju istana itu
Untuk menggapai harapmu.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 00:24 2 komentar Link ke posting ini
Sabtu, 07 Maret 2009
Nafas Kota
Hilir mudik tiada henti yang silih berganti
Terus memadati waktu tak kenal panas dan debu
Digertaknya sebuah kesibukan akan karya pangan
Menjadi tujuan bekal pengganjal kelaparan
Gemebyarnya sang sinar bagaskara
Memulai aktifitas manusia di lapangan kota
Menjadi padat pemukiman arus jalan raya
Menjadi sempit tatanan jalan yang ada
Sepenggalah mentari naik,,,
Menyapu embun di ujung rerumputan
Mengeringkan jalan tandus dan gersang
Hari semakin menaik,,,
Suhupun mulai memuncakan celciusnya
Banyak keringat bercampur lebur
Banyak asap saling membaur
Terasakanlah,,,
Akan sebuah nafas kota yang penuh deru
Di dalam sesaknya nafas kota
Tak tampak capung beterbangan menghiasi awan
Tak tampak juga burung bersahutan di tengah siang
Sungguh terdengar bising
Arus jalan menyembur solar
Arus jalan menyembur asap
Hingga aku tak mampu bernafas
Karena cerobong asap dimana-mana
Mungkin ini nafas kota
Yang mulai sesak karena raya
Membungkus paru-paru dalam debu nyata
Yang banyak merusak nyawa kota.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 13:30 0 komentar Link ke posting ini
Rabu, 04 Maret 2009
Selendang Ungu
Sehelai kain yang memanjang
Tergibas dengan sabet gemulai
Mengindah dengan rumbai-rumbainya
Mengisi estetika di setiap gerak tubuhnya
Ekspresi itu makin tampak
Membalut kuat panggung hiburan
Selendang biru,,,
Masih tersimpan rapi dalam almari
Terjaga suci kenangan yang menjadi
Bahan materi hidup memberi
Di pesisir selendang biru
Menguak kenangan perjuangan berkarya
Hadapi masa penuh gejolak
Selendang itu,,,
Mendarah seni dalam nadiku
Mengurat kuat dalam darahku
Karena panganku ada karena rumbai selendang itu
Kini tak lagi mengawan
Karna hanya tinggal kenangan
Menyisakan kalimat dalam balut cerita
Sang ayah bunda dalam mengisi keluarga
Kenangan itu tekah mengakar
Mengendap rata dalam palung jiwa
Melekat kuat dalam beranda rasa
Satu helai selendang ungu
Membantu pangan daya hidup
Meski kenangan yang kini tertinggal
Meski simpanan yang memberi kenangan
Saat yang sunyi aku merindukan
Gibasan lembut selendang ungu
Rumbainya,,,
Gemebyar menguasai masa
Mengkilat bagai sang sutra
Memancarkan sinar pantulan cahaya
Dengan segenap kisah berliku
Aku berteduh semasa kecilku
Di bawah selendang ungu itu.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 17:00 1 komentar Link ke posting ini
Selasa, 03 Maret 2009
Untuk Adikku
Di atas sofa putih
Engkau tarbaring perih
terdampar dalam husada yang kritis
Menghirup uap-uap kimia
Meminum cairan-cairan berisi
Menelan butiran-butiran pahit
Dengan maksud membebaskanmu dari sakit
Husada tetangga
Tak mampu memberimu asi
Perawatan medis yang penuh keterbatasan
Akhirnya,,,
Pesawat putih mengantarmu ke kota
Mencoba kiat di sana
Adikku,,,
Dari kejauhan kakak meraba hatimu
Keprihatinan akan awakmu
Belum itu,,,
Ujianmu sudah di ambang pintu
Peperanganmu sudah menunggu di kelopak matamu
Adikku,,,
Lapangkanlah dadamu, untuk maju
Bertahan kuat untuk mengejar ketertinggalanmu
Meski begitu
Asahlah keenam keris-keris itu
Kuasailah Senjata itu, agar engaku bisa memakainya
Adikku,,,
Berjuanglah untuk maju melawan sakitmu
Bangkitlah dari kasur putihmu
Tinggalkan tempat itu, segeralah berlari mengejar materi
Percayalah adikku
Engkau pasti mampu melaku
Di seperempat subuh kakak menderu
Menghias layar untuk adikku.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 15:01 2 komentar Link ke posting ini
Di Ujung Pagi
Terdampar lemah
Masih melangkah untuk membuntal nafkah
Sayup mata tak kuat berkedip
Membesat membuka jendela surya
Fajar pun tiba merangkul cerita
Musibah menimpa merangkul suasana
Kini,,,
Monitor itu telah lepas
Meninggalkan tanggung jawab sang penjaga
Membebankan jiwa di pundak laksana
Pagi telah membuta
Menjereng cerita dalam keranjang bahasa
Tindaknya sebuah salah
Di setiap lalai yang meraba
Namun itu kewajaran manusia
Sudahlah,,,
Nasi itu telah membubur
Tak mungkin dapat kembali lagi
Di ujung pagi
Terangkum sekelumit cerita yang menyiksa
Perasaan jiwa yang sesaat
Namun,,,
Jiwa harus membawa tekad dan tanggung jawab
Di ujung pagi ini
Terketik perlahan huruf hati yang sedih
Di atas bantalan papan biru
Jiwa percaya akan hikmah ilmu
Tiada suka , tiada duka
Tiada musibah, tiada hikmah
Pelajaran hidup yang berarti
Pengalaman hidup membawa hikmah diri
Dia memang hadir
Merusuhi kenyamanan hati
Ku biarkan dia menari dan bernyanyi
Sepuas gerak lidi
Selepasnya dia pulang dari sini
Kuat tercapai di raga ini.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 14:36 1 komentar Link ke posting ini
Minggu, 15 Februari 2009
Sobat
Sobat…
Setajam apapun kerikil yang menghalangimu
Sekeras apapun batu yang menyandungmu
Itu adalah warna hidupmu, warna hidupku
Biarkanlah semua itu menyapa ketenangan jiwamu
Berat pula ku katakan
Sebuah perpisahan tanpa pertemuan
Hilang sudah kesempatan masa berpatner
Rupanya…
Waktu berkata lain
Matahari beranjak naik untuk menyinari bumi
Dengan cahaya yang suci nan abadi
Di bawah terik kita menjauh, meski kesempatan telah mendekat
Di sini tiada lagi pelangi yang menyanyi
Menyaksikan kerukunan diri
Namun…
Kedua bola mata ini tak sanggup menampung
Cucuran air mata yang ada
Sobat…
Aku berdiam diri di atas kursi
Mengukir cerita pahit akanmu
Bersabarlah selalu
Untuk berpayung dari jatimu
Moga sukses menyertaimu.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 19:18 0 komentar Link ke posting ini
Jumat, 13 Februari 2009
Tiada Daya
Menatap sayu pada malam yang semakin mencekam
Tertunduk pada sebuah takut yang semakin menggelut
Tiada daya jika sang raja berkata dengan tegasnya
Karna dia adalah sang raja dalam sebuah istana
Lepaslah kenyamanan itu
Termenung di sudut pintu dengan jiwa yang ragu
Inikah kiasnya hamba sahaya yang termangu dalam ruang maya
Umbaran jiwa yang tegang semakin menggenang
Dibelai manis oleh sebuah semribit angin malam
Biarkanlah ini masuk dalam sendunya palung jiwa
Biarlah ini mampir dalam indahnya beranda raga
Untuk berhias membalut salah dan melukis makna
Runtuhnya malam ini memberikan gambaran sebuah ketakutan
Pada seorang yang menjadi pujangga perantauan
Mungkin ini adalah serpihan kerikil yang terdampar
Di sepanjang jalan kota kembang
Pada dedauan yang membesat aku tak mampu bertanya
Pada rumput-rumput yang menjalar pun aku tak mampu berdepat
Sampai kapankah hawa panas menghangati beranda hati ini
Sampai insan meninggalkan alam semesta ini
Ini bagian dari sebuah konsekuensi
Yang sejatinya memang harus dijalani
Memberi nilai di setiap penghujung waktu
Menjadi mesin pengepul materi di setiap hari
Terkadang aku bertanya pada bara yang membara
Dimana percik air yang mampu membasahi dada
Kini sang raja telah berubah
Jarangnya memberi sapaan yang lembut
Aku semakin takut padanya
Karna dia adalah orang tuaku di medan berkarya
Aku semakin sedih, jika sang raja benar-benar berubah
Tak lagi mengerti rentanya kekuatan ini
Ku akui aku memang tak mampu
Tak seperti, tak dapat memberi suguhan yang memuaskan
Jika aku harus bertanya, kepada siapakah?
Sementara kawan berkarya
Orang yang cakap dalam bidangnya acuhkan semuanya
Hanya amarah yang terlampiaskan pada sekitarnya
Dalam kota kembang ini
Ku meracik kata hati yang takut
Semakin larut bulan purnama semakin aku takut kepadanya
Ini semua yang membuatku ingin kembali
Berada dalam pangkuan sang ibu
Meminta perlindungan, dari banyak tekanan
Disini hanya tetes air mata yang mampu terlinangkan
Sesungguhnya,,,
Ingin rasanya aku bercerita
Pada orang nomor satu di istana
Namun aku takut padanya
Akan murka atas peristiwa yang sesungguhnya.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 15:10 0 komentar Link ke posting ini
Rabu, 21 Januari 2009
Serangkai Bahasa Cinta
Di sebelah sunyi ‘ku menanti
Sekuntum melati yang kian mewangi
Semerbak mengisi ruang emosi
Menghibur sepi yang sedang jatuh hati
Pada insan yang kini menjadi teman berbagi
Terasa sekali akhir-akhir ini
Dia datang menghapus tangis
Dia datang mengundang senyum manis
Dia hadir mengisi hari yang sendiri
Dia hadir memberi makna hidup yang lebih berarti
Dia singgah menuangkan sejuk pada jiwa yang pernah kecewa
Dia singgah menyapu sampah yang sudah tiada guna
Terima kasih cinta
Kau datang membawa makna
Memicu semangat untuk kembali
Dalam sebuah gelora pupus melody
Semoga aku dapat menerima
Membiarkan dirimu masuk dalam tanjung asmara
Menikmati indahnya kebersamaan yang penuh tawa
Sayang, aku belum mengenal penuh
Tentangmu seutuhnya
Wajah ayumu pun aku tak tahu
Hanya kata-katamu yang dapat ’ku baca
‘Ku nilai dan ‘ku pahami tentangmu
Ruang mayalah yang mempertemukan
Seikat tali persahabatan
Yang memulihkan pesona cinta
Pesona kasih pada sesama yang tak pandang rupa
Pesona sayang pada si dia yang tak pandang usia
Inikah asmara yang sedang menggelora di lubuk jiwa?
Di layar putih yang penuh garis
‘ku menyulam makna dalam kata
‘ku merenda kata dalam kalimat
‘Ku satukan kalimat menjadi padu
‘Ku haturkan serangkai bahasa jiwa
Dengan segenap perasaan di dada
Sederet sajak curahan telah tercipta
Untuk menghiasi harimu di sana.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 23:42 5 komentar Link ke posting ini
Tanda Tanya
Duduk sendiri dalam sepoi angin yang lembut
Aku melamun tanpa daya dalam kondisi nyata
Melihat perjuangan seorang kawan
Dalam melanjutkan suatu jenjang pendidikan
Stabilnya detik jam yang berputar
Membuat semakin cepat jantungku berdetak
Dengan iri, sedih dan bimbang
Tetapku ucapkan selamat berjuang teman
Menjadi tanda tanya pendidikanku
Cukup atau tertunda dalam mengejar cita-cita
Berdedikasi pada bangsa, mengabdi untuk Negara
Menjadi nyata ataukah akan binasa ?
Aku semakin menjadi teratai
Hidup dalam medan yang gersang
Di bawah terik sinar kemarau panjang
Kehidupan sangat renta dan penuh derita
Dalam melangsungkan kehidupan barunya
Meski begitu sebuah harapan melintas selalu
Mendung akan memberikan hujan
Hujan akan mengguyur kegersangan
Dan semua akan berubah menjadi kesuburan
Bisakah, semangat itu bersemi kembali ?
Dan tak akan membiarkan
Semua menanti batas usia
Tetap terambisi, mengejar suatu profesi
Suatu nanti bisakah aku berjuang kembali ?
Mengejar dan meraih keinginan hati
Aku tak tau
Seiring waktu yang tertunda
Tak pantas ku membiarkan
Mengisi batas usia hanya dalam kegelisahan
Pendidikan hidupku dalam vakultas hatiku
Pilihan hidupku adalah masa depanku
Yang sampai saat ini belum ku tahu.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 23:20 3 komentar Link ke posting ini
Kegelisahanku
Awak lemah terbaring kaku
Tertutup bayangan yang tak menentu
Awak renta terbujur membatu
Di atas bantalan padat sofa ungu
Awak mencoba kuatkan diri
Dengan aktivitas penuh kreasi, imajinasi
Tampak mulai padang….
Persawahan dan perkebunan yang membentang
Seperti awakku yang sedang gersang
Menjalani hidup penuh cobaan
Merasakan sakit yang kian bersilih
Yang membuat kegelisahan
Benarkah ini cobaan?
Mudah-mudahan bukanlah siksaan
Semoga kesembuhan segera datang
Menghampiri dengan tawa riang
Hari demi hari yang penuh lara ini
Hanya kegelisahan yang selalu menemani
Hanya kebimbangan yang selalu menyertai
Hanya ketakutan yang selalu menghantui
Bisakah awak melewati ini semua?
Bintang di langit memancarkan sinarnya
Rembulan malam menerangi malam-malamnya
Selalu tampak berkilauan
Dalam setiap perputaran galaksinya
Kegelisahanku…..
Menghadapi lara jasmani hidupku
Tak hilang dalam hari-hariku
Saat menyelimuti fisikku
Tuhan ku mohon sembuhkanlah aku
Dari hal yang meresahkanku
Dari hal yang menyedihkanku
Menggelisahkanku.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 23:17 1 komentar Link ke posting ini
Seratus Tahun Kebangkitan Negriku
Dua puluh mei yang cerah
Terkenang semua semangat juang
Satu abad suatu kebangkitan
Kebangkitan nasional
Perhelatan seni, militer, budaya siap digelar
Pertunjukan, upacara, aneka hiburan siap dilaksanakan
Semua terjun dalam setiap komponen
Rasa pilu tersimpuh dalam kalbu
Melihat dan menyaksikan
Kekejaman para penyeleweng, para koruptor
Hidup merajalela menindas rakyat
Dan bertindak sewenang-wenang
Nasionalisme…….
Mulailah bangkit kembali semangat bangsaku
Rebut kembali kedamaian negriku
Patriotisme…
Tunjukan lagi indonesiamu
Raihlah lagi kemenangan bumi pertiwi
Kebangkitan negriku…..
Berkibarlah selalu merah putihmu
Tunjukan kegagahan dan keberanianmu
Yang akan menjunjung tinggi martabat tanah airku
Oh….kebangkitan negriku
Seratus tahun ku berada dalam naunganmu
Satu abad dalam perjalanan hidupku
Di hari ini terdengar merdu olehku
Lantunan lagu-lagu kebangsaanmu
Dengan pusaka abadi nan jaya
Indonesiaku
Mari wujudkan semangat kebangkitan
Kebangkitan nasional tanah airku
Indonesia…! Indonesia…!
Tanah tumpah darahku
Bangkit segera dari lamunmu
Yang mampu mendobrag penjajahan meliku
Hingga tercapai tatanan nusantara baru
Dengan tekhnologi yang semakin maju
Jayalah untukmu…..kebangkitan negriku
Indonesiaku.
Dirangkai: 20 Mei 2008
HARKITNAS
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 22:59 0 komentar Link ke posting ini
Ayat-Ayat Suci Darimu
Telah usai hajat sang praja
Telah terlantik tiga dua pahlawan bangsa
Melapis semangat dengan patriot muda
Mengemban tugas tanggung jawab janji dan etika
Senyap remang – remang
Dipanggilnya ucapan kakak dengan lantang
Diucapkannya ucapan selamat menyongsong kehidupan
Sembilan belas tahun semoga tercapai cita dan harapan
Dirabannya kotak kecil dari saku pramuka
Diambilnya sebuah kado istimewa
Diberikannya dengan ucapan lemah olehnya
Kepada kakak yang sangat di cintainya
Semakin gelap perjalananku menuju sanggar
Tak terlihat benderangnya sinar yang menghadang
Hanya tampak galaksi dan rasi bintang
Dan sepasang kunang-kunang yang beterbangan
Tak terasa olehku
Singgahlah aku dalam pesanggrahanku
Ku tertegun dan teringat bingkisan istimewa darinya
Penuh melody aku membukannya
Hati bergetar setelah melihat
Kumpulan ayat-ayat suci di depan mataku
Rangkaian surat-surat suci yang telah membuku di depanku
Sungguh…..
Kau adikku yang pengertian
Kau harapkan ketulusan dan keikhlasan
Menjalani hidup dalam ruang gelap terang
Terima kasih adikku
Terima kasih bingkisan suci darimu
Namun, dalam hatiku masih mengiang
Banyak kata yang tak sempat tersampaikan
Meski harus tetap terungkapkan
Terima kasih, adikku sayang.
Dirangkai:1 mei 2008
Selepas Hari Ultah
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 21:53 1 komentar Link ke posting ini
Perang Penentuan
Tajam nya pedang yang telah terasah
Tak setajam pedang yang di barat sana
Runcingnya goresan bambu – bambu juang
Tak seruncing goresan bambu yang di barat sana
Namun mereka bersusah payah
Mengasah, membasuh, mengayumi dan memberi
Motivasi diri serta solusi untuk pribadi
Dalam medan pertempuran hidup dan mati
Menjelang dua dua peperangan nanti
Selalu disiapkan bekal untuk menghadapi
Siapkan diri, materi, spirit dan hati
Mengikuti perang yang penuh hati-hati
Oh……
Gelisahnya hati ini
Membayangkan perang esok yang menanti
Semoga hilang deret keraguan
Semoga sirna barisan ketidakpastian
Semoga muncul jiwa semangat keoptimisan
Bahwa bisa menang peperangan
Ya Alloh….ya Tuhan….
Berikanlah petunjuk, jalan dan kemudahan
Dalam menghadapi perang
Tunjukanlah cahaya rahmatMu pada diri ini
Karena…….
KebesaranMulah yang bisa menolong
Mengabulkan segala bentuk permintaan hamba
Hamba yang sedang takut menanti datangnya hari
Perang perang dan perang
Tapi tak akan lepas dariku
Do’a dan restu ayah bundaku
Mendorong untuk berusaha dan maju
Menghadapi peperangan yang berat
Aku pun berusaha menyiapkannya
Semua dan segala kebutuhannya
Semoga perang yang kan terlaksanakan
Akan membawa kemenangan
Ujar hati menempuh ahir kajian
Membawa nyata lulus ujian.
Dirangkai: 20 April 2008
Menjelang Ujian Nasional
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 21:25 2 komentar Link ke posting ini
Engkau Bukan Yang Dulu Lagi
Penuh kasih, hari menyertai
Tak kala waktu pandang pagi
Selalu tampak olahan cinta asmara
Mengalir terus apa adanya
Tak akan pernah memandang haluan
Rintangan yang kian selalu menghadang
Tetap terlihat wajah ayu penuh rona
Tetap berseri membayangi hari – hari
Mungkin….
Harapan itu telah terhempas jauh
Hilang sudah keinginan qalbu
Hanya tepukan sebelah tangan yang mengiang
Mengiringi keseharianmu yang gersang
Namun akan tetap teringat selalu olehmu
Kenangan manis semu memiliki diriku
Kini diriku terbuai dalam kekecewaan
Meniti sikapmu penuh ragu dan tak pasti
Ucap kepahitan yang membawa penyakit
Hilang harapan dan beribu kepercayaan
Meski yang ada membawa luka
Katakanlah dengan hati penuh kejujuran
Jika tidak katakanlah tidak
Namun jika iya katakan iya pula
Fajar ini……
Aku telah tau tentang dirimu
Kini engkau bukanlah yang dulu lagi
Yang selalu memberi cinta dan asmara
Memberi arti hidup dan motivasi
Keberadaan dan kehadiranmu kini
Adalah ranjau pahit rasa di hati.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 05:58 0 komentar Link ke posting ini
Jumat, 16 Januari 2009
Yang Masih Misteri
Remang-remang tanpa bayangan
Tak jelas di pelupuk mata yang kian menjauh
Semakin terfikir hal itu, semakin tak tampak dariku
Semakin tertata semua, semakin berantakan tatanan itu
Sebuah asa yang selalu berkunjung
Menemani malam dalam lelapnya impian
Sebuah cita yang tak henti mengiang
Membisiki telinga dalam gemuruhnya harapan
Di dalam jengkal ukuran yang menghasilkan hitungan
Terlalu jauh dari sorot pandangan untuk dilakukan
Yang membuat pilu, ragu untuk kedepan
Begitu berat kaki untuk dilangkahkan
Karena banyak sekali lubang-lubang yang berurutan
Yang memancing iba, dalam titik sudut kehidupan
Tempo yang telah berganti
Meninggalkan sebuah pesan bijak
Hindarkan keraguan dan kekecewaan
Dalam berjalan di bawah lilitan benang-benang
Jika memang itu adalah jalan yang telah digariskan
Suatu saat pasti akan aku temukan
Kenyataan hidup yang menghiasi jagat raya
Tak selalu sama dengan harapan manusia
Ramai raga focus menjadi puspa keluarga
Sepi jiwa dalam meratapi kandasnya asa
Masa depan dicari sebagai bekal hidup nanti
Namun……..
Masa depan itu sebuah misteri
Tiada yang tahu skenario yang akan terjadi
Banyak orang memasuki misteri itu
Gagal membawa cita, hanya sengsara yang dipangku
Banyak juga kabar beritanya
Mereka keluar dari sebuah misteri
Dengan keberhasilan yang membanggakan hati
Masa lalu dikaji sebagai bahan intropeksi
Karena………
Pahit manisnya menyimpan memori
Di setiap celah yang membawa hikmah diri.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 18:51 2 komentar Link ke posting ini
Selasa, 06 Januari 2009
Jika Aku Kembali
Jika aku kembali kesana…
Aku akan kehilangan tawanya
Jika aku kembali merantau…
Aku akan kehilangan senyum yang memukau
Jika aku kembali berkarya
Aku akan kehilangan gerak lucunya
Jika aku kembali kesana…
Aku akan kembali mendapatkan lara
Jika aku kembali kesana…
Aku akan kembali mengorbankan rasa
Jika aku kembali kesana…
Aku akan memulai rindu dengannya
Jika aku kembali kesana…
Aku akan dicekam takut dalam gejolak jiwa
Jika aku kembali kesana…
Aku pasti akan teraniaya
Oleh seorang teman kerja
Yang tak senang akan keberadaan diri di
Tapi….
Aku harus kembali kesana
Mencari bekal hidup dunia
Mencari penukar sesuap nasi
Untuk memberi, perut yang tak terisi
Namun saat ini..
Aku akan kembali kesana
Membawa gelisah di palung jiwa
Yang sedang porak poranda
Menghadapi akan kandasnya asa
Kembalinya kesana…
Dengan sebuah sorot mata yang tak berdaya
Kembalinya kesana…
Dengan pesan yang masih maya
Ya Tuhan….
Tunjukan jalan
Menjemput cita dan harapan
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 04:55 1 komentar Link ke posting ini
Senin, 22 Desember 2008
Puisi Untuk Ibu
Mutiara Kasih Ibu
Ketika malam menguasai ladang hatiku
Aku terdiam bersama lamunan
Mengingat dan teringat kasih ibu kepadaku
Ibu….
Dengarkanlah suara hatiku yang semakin berdering
Menjerit, memanggil-manggil namamu
Mengharapkan belaian yang meneduhkan
Ibu….
Engkau adalah istana kedamaian untukku
Pembangkit jiwa yang terlena
Penarik semangat yang telah patah
Ibu….
Masa kecilku tak pernah lepas dari kasihmu
Kini aku telah tumbuh menjadi putra yang tampan
Tampan di matamu sebagai buah hatimu
Tapi, ibu….
Aku selalu mengingat
Betapa banyak aku menyusahkanmu
Perjalanan hariku semasa kecil
Dirundung lara dalam raga yang lemah
Dan kini aku bukanlah anak kecil lagi
Kala ku ingat masa-masa itu
Tangis sedu bahagia ku memilikimu
Dalam setiap langkahmu
Mengandung makna di setiap kesehatanku
Dalam setiap tetes matamu
Menyimpan bahagia memandangiku
Karena….
Kini aku telah tumbuh
Menjadi anak yang besar
Oh ibu….
Maafkanlah anakmu ini
Yang telah banyak menyusahkanmu
Yang telah banyak merepotkanmu
Kini….
Aku sangat merindukanmu
Tunggu aku ibu
Aku akan pulang dari zona ini
Meminta perlindungan dari kekejaman zaman
Meminta pengayuman dari penindasan metropolitan
Ibu….
Tak berdaya hidupku tanpamu
Hanya do’a dan restumu yang senantiasa
Mengiringi langkahku
Ibu….
Kini aku telah mengenal dunia
Restuilah aku ibu….
Agar aku dapat menjemput harapku
Do’akan aku ibu….
Agar aku dapat menemui citaku
Dua dua Desember ini
Kurangkai syair untukmu
Ini ungkap kasihku
Untukmu Ibuku.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 00:11 3 komentar Link ke posting ini
Selasa, 25 November 2008
Sepeda Onta Milik Pak Guru

Sepeda onta itu masih ku ingat selalu
Sepeda onta itu pernah ku bonceng waktu dulu
Sepeda onta itu aktif berjuang tanpa keluh
Sepeda onta itu membuat ringan karyamu
Sepeda onta itu selalu mengantarkanmu
Sepeda onta itu banyak jasa yang tak terhitung
Sepeda onta itu mengiringi perjalanan selalu
Sepeda onta itu membuatku bangga akanmu
Sepeda onta itu kau kayuh selalu
Sepeda onta itu menjadi teman perjuanganmu
Sepeda onta itu aktif membantumu
Sepeda onta itu ikut mencerdaskan anak bangsa
Sepeda onta itu adalah teman karib pak guru
Sepeda onta itu sahabat sejati pak guru
Sepeda onta itu memang milik pak guru
Membantu pak guru.............
Menemani pak guru........
Menyayangi pak guru.............
Mengantarkan pak guru...........
Pulang pergi bersama sepeda onta milik pak guru.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 04:40 0 komentar Link ke posting ini
Senin, 10 November 2008
Sepuluh November

Indonesia......
Negeri tercinta
'ku jejakan kakiku di atas kemerdekaanmu
'ku singgahkan ragaku dalam atap kebebasanmu
Sepuluh November ini begitu banyak menyimpan banyak nota
Nota kepahlawanan dalam medan perjuangan
Meraih kebebasan, hindarkan ketidakadilan
Memberantas kesewenang - wenangan
Dari tangan para perusak jiwa bangsa dan negara
Pahlawan negeriku..........
Akan selalu bersemayam jasa luhurmu dalam benakku
Akan selalu teringat perjuangan dan pengorbananmu
Sungguh.........
Tak sanggupku membayangkan kala perangmu datang
Melawan penjajah dengan penuh kegigihan
Siang malam jiwa raga kau korbankan
Panas hujan tak pernah kau hiraukan
Berlari kencang satu untuk memperjuangkan
Kemerdekaan
Peperanganmu begitu kuat meski berbaring
Disertai tajamnya pusaka bambu runcing
Kau serahkan sekuat jati yang kering
Sampai suara tak lagi mampu untuk melengking
Kini........
Jerihmu telah ku rasakan
Betapa nikmatnya kehidupan di alam kemerdekaan
Tersingkir dari segala bentuk penindasan
Terhapus dari segala bentuk ketidakadilan
Namun.......
Negeri ini sedang dilanda hujan
Hujan kriminal dan gerimis bencana
Yang datang kian beruntun
Yang hadir kian bersusul
Tampak hanya meresahkan bangsa
Bersama masalah disintegrasi bangsa
Pahlawan negeriku
Semoga muncul benih perjuanganmu
Tumbuh meneruskan peperanganmu
Di suatu medan yang baru
Dalam sepuluh november ini
'ku ucap hari pahlawan untukmu
Patriot besar pahlawan bangsa
Pahlawan Indonesia.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 05:45 4 komentar Link ke posting ini
Sabtu, 08 November 2008
Awan Kenangan

Di tengah hamparan tanah lapang
Di panas terik sang raja siang
Teringat selalu kebersamaan berpetualang
Teringat selalu perjuangan yang begitu meyakinkan
Bersama siapa diri melangkah dah melaksanakan...............
Seorang kawan
Perjalanan berliku memasuki hutan
Tak memangkas kobaran semangat diri dan kawan
Meski naik turun memeras keringat
Meski jauh nengeraskan kaki
Namun satu tetap menjadi pegangan suci
Menjadi pecinta negeri dalam naungan bersama sahabat sejati
Di ujung acara yang menyapu banyak teriakan
Terlihat kompak para kesatria yang berjejeran
Tampak meramai tepuk tangan yang bersahutan
Terdengar indah lantunan syair dalam barisan
Menghapus letih di sekujur letihnya badan
Dalam puncak sengat benderang siang
Melambai - lambai dedaunan hijau di sekitar lapangan
Seribu langkah telah terjalankan
Ditemani terik dan kocaknya pepohonan
Sekelumit bahasa memancing tuk mengungkapkan
Tatanan rapi dalam kemasan awan kenangan
Pengembaraan penuh ksatria dalam alam terbuka
Disertai tulus dan berjiwa pancasila
Pengabdian pada negeri dalam usia dini
Mencintai alam di atas bumi pertiwi
Menjaga negara dengan melestarikan budaya
Untuk siapa tindak dan tanduk tersketsa
Untukmu negeri Indonesia
Petualangan yang memakan banyak resiko
Mempertebal rasa cinta pada negeri kelahiran
Sejuta pena telah melayar sertakan
Sebuah kisah yang mengukir awan kenangan
Awan kenangan.........
Telah muncul di permukaan
Menjadi kenangan di suatu kehidupan
Bersama kawan sebagai menu persahabatan.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 19:00 1 komentar Link ke posting ini
Kamis, 06 November 2008
Di Taman Kopo

Di sini..............
Insan sendiri
Sendiri tiada yang menemani
Tiada teman untuk berbagi perasaan
Tiada kawan untuk berbagi rasa senang
Tiada teman yang tahu, hati yang perih
Tiada kawan yang tahu, hati yang sedih
Kesendirian di kota kembang ini
Terasa ramai sepi di hati
Mengiringi kegundahan qalbu
Memikul pilu dengan langkah penuh tangis
Mampukah insan bertahan dengan kesedihan yang terasakan....
Dalam keidahan Taman Kopo
Insan belajar meniti kehidupan yang mandiri
Perjalanan dihiasi ilalang dan teki
Namun, terasa berat perjalanan itu
Perjalanan yang penuh jinjingan kesalahpahaman
Terasa berat beban rasa yang harus disimpan
Hati yang gundah menghadapi ketidak cocokan
Sungguh...............
Terasa sendiri hati yang gulana mengemban derita
Derita qalbu yang menyimpan banyak memori
Kemanakah diri harus mengadu.........
Mencurahkan kegelisahan hati yang pilu
Di sepanjang jalan kota kembang
Tampak hijau dedaunan yang menawan
Mengisi kekosongan mata di setiap penglihatan
Mengisi kota dengan penuh kesejukan
Namun............
Perjalanan yang akan ditempuh masih begitu panjang
Belum sejengkal dalam setiap tahap hitungan
Ya Tuhan...................
Kirimkanlah malaikat-Mu untuk menjadi sahabat
Sahabat sebagai tempat berpendapat
Sahabat sebagai teman curhat
Dalam zona perantauan ini....
Qalbu selalau merasa sendiri
Hanya gemuruh permainan yang mengelilingi
Hanya dunia maya yang selalu menyelimuti
Kirimkanlah segera malaikat-Mu kesini
Agar insan kerasan tinggal dalam medan perantauan
Karena, insan punya sejuta harapan
Namun insan tak mampu mengungkapkan
Di tengah persoalan yang membuat kebimbangan
Tampak indah terlihat bunga di setiap sudut kota kembang
Tampak mekar, kembang menari dan bergoyang
Menghiasi siang di sepanjang jalan
inilah Taman Kopo penuh kenangan
Ya Tuhan..................
Berikanlah kekuatan dan ketabahan
Menghadapi cobaan dan rintangan
Kini raja siang tak lagi benderang
Siang berganti malam tiba
Desir angin malam menyapa kegelisahan
Dinginnya kelam menusuk pori jangat insan
Penuh cekam kala membelai perasaan
Lewat syair penuh memori ini
Ku rangkaikan kata demi kata
Ini ungkapan sejuta rasa
Dalam Kopo Indah yang penuh makna.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 21:44 1 komentar Link ke posting ini
Puing - Puing Embun
Puing-Puing Embun
By : Dwi Tulus Panewun
Ku sapa sang bagaskara
Di sudut cerah suasana pagi
Ku duduk di balik tirai senja
Yang membentang di atas batas cakrawala
Terduduk manis menanti layar sastra yang indah
Rintik hujan yang berloncatan
Menahanku yang akan pergi
Ku tetap disini menanti datangnya hari
Hingga fajar bersemi kembali
Hujan tangis tak kunjung reda mengiringi
Kehidupanku sejak dini
Namun tak
Menuntut ilmu dan menelusuri kehidupan yang lebih mandiri
Pada rintik hujan yang bernyanyi
Aku bersumpah tuk melindungi
Benih-benih cemara yang mengambang
Mengharapkan pertolongan dan belas kasihan
Aku harus mengasuh dan melindungi
Cemara itu hingga menjulang tinggi
Kata adalah wujud permohonan manusia
Ku sertakan harapan di setiap nafas yang kuhela
Ku jaga selalu batinku
Untuk orang yang akan memilikiku
Ranting hati yang pernah merapuh
Kini sirnah sudah
Puing-puing embun membalut hati yang sepi
Menyirami indahnya bersama sahabat sejati
Embun pagi tak pernah jera menghiasi hati
Kala insan terbangun dari mimpi
Meski pelangi menghalangi mentari
Tuk menyinari dunia ini
Namun sastra ini tak kunjung sepi
Menghiasi harimu di senja hari.
Diposkan oleh Dwi Tulus Panewun di 21:40 2 komentar Link ke posting ini

